ARUMSARI PRAKASISWI, RICHA (2025) BAB I PENDAHULUAN. Diploma thesis, UNSPECIFIED.
|
Text (BAB I)
BAB I PENDAHULUAN.docx.pdf - Accepted Version Restricted to Repository staff only until 30 November 2025. Download (4MB) | Request a copy |
Abstract
Sinar-X adalah gelombang elektromagnetik yang memiliki energi sangat tinggi. Di dalam tabung sinar-x, elektron bebas dipercepat oleh beda potensial yang sangat besar dan kemudian diarahkan menuju suatu target. Karena energi yang dimilikinya cukup tinggi, radiasi ini dapat menyebabkan ionisasi di sepanjang lintasannya, sehingga dikenal dengan istilah radiasi pengion. Radiasi sinar-x ini dihasilkan ketika elektron-elektron berinteraksi dengan elektron yang terdapat pada atom target (Pamungkas et al., 2020). Radiologi merupakan cabang ilmu kedokteran yang digunakan untuk menegakkan diagnosis dengan memeriksa bagian tubuh manusia melalui pancaran atau radiasi gelombang. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, bidang radiologi terus mengalami perkembangan dari tahun ke tahun. Salah satu kemajuan tersebut adalah semakin beragamnya jenis pemeriksaan radiologi yang bertujuan untuk memperoleh hasil yang lebih optimal. Secara umum, pemeriksaan radiologi memiliki tujuan utama yang sama, yaitu memberikan informasi yang jelas dan akurat sehingga dapat membantu dalam menegakkan diagnosis suatu kelainan atau kondisi patologis dengan tepat (Sparzinanda et al., 2018). Sendi bahu atau shoulder joint merupakan persendian yang menghubungkan lengan dengan tubuh. Sendi ini dikenal juga sebagai sendi glenohumeral, yang dibentuk oleh tulang humerus bagian proksimal, scapula, dan clavicula. Peran clavicula dan scapula adalah sebagai penghubung antara ekstremitas atas dengan kerangka aksial. Pada bagian depan, scapula terhubung dengan kerangka aksial melalui ujung clavicula, sedangkan pada bagian belakang tidak terdapat hubungan langsung karena scapula hanya menempel pada otot. Persendian ini terbentuk antara kepala humerus proksimal dengan rongga glenoid scapula. Jenis gerakannya termasuk sendi bola dan soket (spheroidal joint) yang memungkinkan pergerakan ke segala arah. Dibandingkan dengan persendian lain di tubuh, sendi bahu memiliki ruang gerak yang lebih luas karena kapsul artikularnya lebih longgar dan rongga glenoid relatif dangkal jika dibandingkan dengan ukuran kepala humerus (Lampignano Kendrick, 2018). Sendi bahu, sebagai titik pangkal dari anggota gerak atas, memiliki mobilitas yang paling tinggi dibandingkan dengan semua sendi dalam tubuh kita. Kebebasan gerak yang diberikan oleh sendi ini memungkinkan anggota gerak atas untuk bergerak dalam tiga sumbu utama. Oleh karena itu, sendi bahu rentan mengalami trauma, seperti fracture ( Woolf, 2019). Fracture (fraktur) merupakan suatu kondisi di mana terjadi penghentian kontinuitas struktur tulang. Ini bisa berupa retakan, remuk, atau pecahnya korteks, dan yang lebih umum adalah fracture lengkap. Fragmen tulang yang terbentuk akibat fracture tersebut dapat mengalami pergeseran atau tetap utuh, maka itu disebut fracture tertutup. Sebaliknya, jika kulit atau salah satu rongga tubuh mengalami robekan, maka disebut sebagai fracture terbuka (atau fracture kompaun), yang memiliki kemungkinan untuk terkontaminasi dan mengalami infeksi. Terdapat beberapa jenis penyembuhan yang dapat terjadi pada fracture, yaitu union, delayed union, dan nonunion. Union merupakan perbaikan yang tidak lengkap, di mana kalus yang terbentuk mengalami klasifikasi. Secara klinis, lokasi fracture tidak menunjukkan rasa sakit saat dilakukan palpasi dan dapat menahan beban. Sinar-X menunjukkan adanya callus bridging. Garis fracture hampir sepenuhnya hilang dan telah terhubung oleh trabekul tulang. Proses penyembuhan telah selesai dan tidak diperlukan perlindungan lebih lanjut. Fracture dapat terjadi pada bagian tulang manapun salah satunya pada tulang shoulder joint (Solomon, L., & Apley, 2018). Menurut klasifikasi Neer yang dikutip Schumaier dkk (2018) Fraktur pada bagian proksimal humerus diklasifikasikan menjadi empat bagian, yaitu tuberositas mayor, tuberositas minor, kepala humerus, dan batang humerus. Kasus fraktur yang mengalami pergeseran atau tergolong berat umumnya ditangani dengan tindakan operatif, seperti penggunaan paku intrameduler, pelat pengunci, teknik perkutan, maupun artroplasti. Pada fiksasi internal, perhatian utama perlu diberikan terhadap adanya kominusi pada sisi medial, angulasi varus, serta pemulihan struktur calcar. Teknik pemeriksaan radiografi shoulder joint pada pasien dengan indikasi fraktur atau trauma menurut (Lampignano Kendrick, 2018) menggunakan proyeksi Antero Posterior (neutral rotation), Transthoracic lateral, PA oblique (Scapular Y lateral), proyeksi Tangential (supraspinosus outlet), Antero Posterior apical oblique. Dan pada kasus non trauma menggunakan proyeksi Anteroposterior Eksternal rotation, Antero Posterior internal rotation, infrasuperior axial, Posteroanterior transaxilary, inferiosuperior axial, AP oblique. Teknik pemeriksaan radiografi shoulder joint adalah teknik pemeriksaan secara radiologis dari shoulder joint tujuannya untuk mendapatkan gambaran anatomis dari shoulder sehingga dapat membantu menegakkan diagnosa suatu penyakit atau kelainan-kelainan pada shoulder joint (Lampignano Kendrick, 2018). Menurut Standar Prosedur Oprasional (SPO) No. 03.0135.307.112559 tentang pemeriksaan radiografi shoulder joint pada pasien dengan indikasi fraktur di Instalasi Radiologi RSUD Panembahan Senopati Bantul menggunakan dua proyeksi, yaitu proyeksi Anteroposterior (AP) dan proyeksi Lateral. Berdasarkan latar belakang yang telah penulis paparkan yang terlihat ada perbedaan antara teori dengan yang dilakukan di Instalasi Radiologi RSUD Panembahan Senopati Bantul, maka penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam dan mengangkatnya sebagai karya tulis ilmiah dengan judul “Teknik Pemeriksaan Radiografi Shoulder Joint pada Pasien dengan Indikasi Fraktur di Instalasi Radiologi RSUD Panembahan Senopati Bantul”. 1.2 Rumusan masalah 1.2.1 Bagaimana teknik pemeriksaan radiografi shoulder joint pada pasien dengan indikasi fraktur di Instalasi Radiologi RSUD Panembahan Senopati Bantul? 1.2.2 Mengapa pemeriksaan radiografi shoulder joint pada pasien dengan indikasi fraktur di Instalasi Radiologi RSUD Panembahan Senopati Bantul hanya menggunakan proyeksi AP? 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Mengetahui bagaimana teknik pemeriksaan radiografi shoulder joint pada pasien dengan indikasi fraktur di Instalasi Radiologi RSUD Panembahan Senopati Bantul. 1.3.2 Mengetahui mengapa pemeriksaan radiografi shoulder joint pada pasien dengan indikasi fraktur di Instalasi Radiologi RSUD Panembahan Senopati Bantul hanya menggunakan proyeksi AP. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambahan ilmu pengetahuan dan memberikan informasi kepada pembaca berkaitan dengan teknik pemeriksaan radiografi shoulder joint pada pasien dengan indikasi fraktur. Khususnya di Institusi Pendidikan, sebagai tambahan refrensi dan sebagai tinjauan pustaka bagi Program Studi Radiologi Program Diploma III Universitas Widya Husada Semarang. 1.4.2 Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan atau masukan kepada rumah sakit dalam upaya meningkatkan kualitas pada pelayanan radiologi dalam pemeriksaan radiografi shoulder joint pada pasien dengan indikasi fraktur. 1.5 Keaslian penelitian Penelitian dengan “Teknik Pemeriksaan Radiografi Shoulder Joint pada Pasien dengan Indikasi Fraktur di Instalasi Radiologi RSUD Panembahan Senopati Bantul” Karena sejauh yang peneliti temukan belum ada penelitian yang sama dengan penelitian ini. Berikut ini adalah penelitian terdahulu yang sejenis dengan topik yang penulis teliti. Tabel 1. 1 keaslian penelitian Teknik Pemeriksaan Radiografi Shoulder Joint pada Pasien dengan Indikasi Fraktur No Peneliti Dan Tahun Judul Penelitian Tujuan Penelitian Dan Metode Penelitian Hasil Penelitian 1 Natasya Putrri Oktaviana (2023) Program studi Diploma III teknik rontgen sekolah tinggi Ilmu Kesehatan Widya Husada Semarang Teknik Pemeriksaan radiografi shoulder joint di Instalasi Radiologi RSUD RAA. Soewondo Pati (Oktaviana, 2023) Untuk Mengetahui teknik pemeriksaan shoulder joint dan alasan mengunakan proyeksi AP di Instalasi Radiologi RSUD AA Soewondo pati. Metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Menujukan bawa teknik pemeriksaan shoulder joint di RSUD RAA Soewondo pati hanya menggunakan Proyeksi Ap alasanya Proyeksi AP saja suda kelihatan klinis nya. 2 Malikus Sholih (2021) Program studi Diploma III teknik rontgen sekolah tinggi Ilmu Kesehatan Widya Husada Semarang Modalitas Pencitraan Pemeriksaan Shoulder joint pada kasus re- Union fracture caput humeri (Sholih, 2021) Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur. Data yang telah didapatkan dari berbagai literatur dikumpulkan dalam satu dokumen untuk menjawab dan memaparkan permasalahan yang ada pada rumusan masalah. Jumlah literatur yang digunakan 3 literatur yaitu menggunakan textbooks dan jurnal dengan cara meringkas jurnal penelitian yang sudah ditentukan sebagai literatur penelitian yang kemudian dimasukkan ke dalam tabel. Hasil studi literatur studi kasus menunjukkan adanya perbedaan informasi pemeriksaan yang digunakan akan tetapi memiliki tujuan yang sama dalam menegakkan diagnosa fraktur pada Shoulder Joint. Perbedaan terletak dari membahas mengenai modifikasi radiograf aksial shoulder menurut (Senna, L. F., & Pires, R. 2016), meneliti mengenai pengobatan fraktur bahu menurut (Lavine, dkk, 2018), membahasa mengenai cara pengobatan kasus patah tulang humerus proksimal pada orang tua menurut (Schumaier, A., & Grawe, B. 2018). Dapat disimpulkan bahwa adanya perbedaan mengenai modifikasi radiograf yang digunakan untuk membandingkan antara USG, MRI untuk mendiagnosa lebih akurat dan membahas mengenai cara pengobatan kasus patah tulang humerus pada orang tua. 3 Gidalti Wulandari Bengnugu (2021) Program studi Diploma III teknik rontgen sekolah tinggi Ilmu Kesehatan Widya Husada Semarang Prosedur pemeriksaan shoulder joint pada kasus trauma (Bengngu, 2021) Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Studi Literature Review, bertujuan untuk mengetahui prosedur pemeriksaan dari shoulder joint pada kasus trauma dan proyeksi yang digunakan pada pemeriksaan shoulder joint trauma. Penelitian ini dilakukan mulai Februari 2021 hingga Maret 2021. Penulis melakukan pencarian bahan pustaka, kemudian menganalisa isi, menuangkan hal yang dipertanyakan ke dalam rumusan masalah, mengkaji topik yang dibahas, menganalisa data, melakukan pembahasan hasil kemudian membuat kesimpulan serta saran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proyeksi pada pemeriksaan shoulder joint trauma berbeda-beda. Jurnal 1 menggunakan proyeksi AP dan modifikasi axillary; jurnal 2 menggunakan AP, Grashey, axillary, dan scapular Y; jurnal 3 menggunakan AP, scapular Y atau LS, serta Modified Trauma Axial (MTA). Perbedaan arah sinar terlihat pada modifikasi axillary (vertikal) dan MTA (45° caudal). Proyeksi AP dan MTA dinilai paling efektif karena mudah dilakukan, berdosis rendah, dan memberikan informasi diagnostik yang lebih lengkap. 4 Richa Arumsari Prakasiswi (2201081) Program studi radiologi program Diploma III Universitas Widya Husada Semarang Teknik pemeriksaan radiografi shoulder joint pada pasien dengan indikasi fraktur Jenis penelitian yang digunakan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah (KTI) ini adalah penelitian kualitatif yang mengadopsi pendekatan studi kasus. Subjek penelitian dalam studi kasus ini terdiri dari satu dokter spesialis radiologi, tiga radiografer dan satu dokter pengirim. Pengambilan data dengan cara observasi, wawancara langsung, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dalam bentuk transkrip, yang selanjutnya melalui proses reduksi data, penyajian data, dan akhirnya penarikan kesimpulan. Pemeriksaan shoulder joint pada pasien dengan indikasi fraktur di Instalasi Radiologi RSUD Panembahan Senopati Bantul hanya menggunakan proyeksi anteroposterior (AP) dengan posisi pasien supine, posisi objek shoulder joint berada dipertengahan kaset, central point pertengahan shoulder, central ray vertikal tegak lurus kaset, FFD 100 cm, kaset ukuran 35x43 cm.
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Subjects: | R Medicine > RA Public aspects of medicine |
| Divisions: | Fakultas Kesehatan dan Keteknisian Medik > D3 Teknik Rontgen |
| Depositing User: | Admin Cakep Perpus |
| Date Deposited: | 11 Feb 2026 08:58 |
| Last Modified: | 11 Feb 2026 08:58 |
| URI: | http://eprints.uwhs.ac.id/id/eprint/3188 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |

